Masalah Perjudian Slot Ovo Ditinjau dari Segi Sosial Menurut Hukum Islam


JUDI SEBAGAI GEJALA SOSIAL (Perspektif Hukum Islam)

Judi merupakan suatu kebiasaan buruk yang berpengaruh pada tatanan kehidupan social masyarakat kita terutama pada permainan Slot Ovo.
Fenomena ini sering dijumpai pada masyarakat dewasa ini, banyaknya permainan judi yang tumbuh dan berkembang pada era informasi dan globalisasi ekarang ini.
Melihat fenomena ini, penulis akan memaparkan perspektif Hokum Islam terhadap persoalan tersebut, dan tetnunya melihat gejala Sosiologis yang terjadi di kalangan masyarakat.

Di zaman sekarang ini banyak dijumpai permainan yang menjanjikan berbagai macam hadiah. Permainan terebut baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, melalui media elektronik (misalnya media Internet) maupun media cetak. Dengan berbagai macam dalil yang dilontarkan para pemainnya bahwa hiburam. Akan tetapi kenyataannya permainan tersebut dicampuri dengan perjudian, artinya sering dijumpai di masyarakat, baik di lingkungan tempat tinggal, di pasar, bahkan di tempat kerja, permainan ini dibarengi dengan melakukan taruhan antara pemainnya.
Fenomena di atas berakibat adanya pihak yang di untungkan dan pihak yang dirugikan.
Bisa pula berakibat pihak yuang di untungkan terlena dengan keuntungan yang diraihnya, dengan tanpa melalui kerja keras dan jeri payahnya sendiri, sednagkan pihak yang dirugikan merasa kecewa, purus asah bahkan sampai menyimpan dendam pada pihak yang mengalami keuntungan. Fenomena ini sering dijumpai pada masyarakat dewasa ini, yang tentunya situasi seperti ini dapat membahayakantatanan kehidupan masyarakat. Melihat fenomena ini, penulis
akan memaparkan perspektif Hukum Islam terhadap persoalan tersebut, dan tentunya dengan melihat gejala sosiologis yang terjadi di kalangan masyarakat.

Slot Ovo
Masalah Judi Slot Ovo ditinjau dari Segi Sosial

Kronologis (Sejarah) Judi
Berdasarkan penggalian arkeologi di mesir, ditemukan jenis permainan yang diduga berasal dari tahu 3.500 sebelum masehi, pada lukisan makam dan gambar keramik terlihat orang yang sedang melempar astragali (tulang kecil dibawah tumit domba atau anjing, yang disebut pukla tulang buku kaki) dan papan pencatat untuk menghitung nilai pemain. Tulang ini memiliki empat sisi yang tidak rata, setiap sisi diduga memiliki nilai tersendiri. Astragali juga dimainkan
oleh penduduk Yunani dan Romawi, yang membuat turannya dari batu dan logam. Orang kuno juga berjudi dengan menggunakan sebatang tongkat kecil. Cerita tentang judi paling banyak ditemukan pada kebudayaan Asia, termasuk Asia Tenggara, Jepang, Filipina, Cinan dan India.
Ada yang menceritakan permainan judi antara dewa, antara manusia, dan antara manusia dan dewa. Taruhannya berupa kaum wanita (isteri, saudara perempuan, anak perempuan), bagian dari tubuh atau bahkan jiwa.

Berdasarkan gambaran di atas bahwa permainan judi tidak hanya dilakukan oelh
masyarakat dewasa ini, tapi juga telah ada semenjak tahun 3.500 sebelum masehi, yang ditemukan berdasarkan pada tokoh sejarah. Pada masa Jahilia-pun terdapat berbagai macam bentuk permainan judi. Dalam hal ini judi (al-maisir) pada masa jahiliah terbagi dua bentuk yaitu: al-Mukhatarah dan Al-Tajzi’ah. Dalam bentuk al-Mukhatara, dua orang laki-laki atau
lebih menempatkan harta dan istri mereka masing-masing sebagai taruhan dalam suait permainan. Orang yang berhasil memenagkan permainan itu berhak harta dan istri dari pihak yang kalah. Harta dan istri yang sudah menjadi pihak pemenang itu dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Jika dia menyukai kecantikan perempuan itu, dia akan mengawininya, namun jika dia tidak menyukainya, perempuan itu diambilnya sebagai budak atau gundik, bentuk
ini diriwayatkan oelh Ibnu Abbas.
Dalam bentuk At-tajzi’ah, seperti dikemukakan oleh imam Al-Qurtubi, permainannya adalah sebagai berikut: sebanyak 10 orang laki-laki bermain kartu yang terbuat dari potongan- potongan kayu (ketika itu belum ada kertas). Kartu yang dibeut Al-zam adan al-aqlam itu berjumlah 10 buah, yaitu al-faz berisi 1 bagian, at-tau’am dua bagian, ar-raqib tiga bagian, al- halis empat bagian, an-nafis lima bagian, al-musbil enam bagian, dan al-mu’alli berisi tuju bagian, yang merupakan bagian terbanyak. Sedang karti as-Safih, al-manih, dan al-waqd
merupakan kartu kosong, jadi jumlah keseluruhannya dari 10 nama kartu tersebut adalah 28 buah.

Kemudian seekor untah dipotong menjadi 28 bagian sesuai dengan jumlah isi kartu tersebut. Selanjutnya kartu dengan nama-nama sebanyak 10 buah itu dimasukkan kedalam sebuah karung dan diserahkan kepada seseorang yang dapat dipercaya. Kartu itu kemudian dikocok dan dikeluarkan satu persatu hingga habis. Setiap peserta mengambil daging untah itu sesuai dengan ini atau bagian yang tercantum dalam kartu tersebut mereka yang mendapatkan
kartu kosong , yaitu tiga orang yang sesuai dengan jumlah kartu kosong, dinyatakan sebagai pihak yang kalai dan merekalah yang harus membayar untah tersebut. Sedangkan mereka yang
menang, sedikitpun tidak mengambil daging unta hasil kemenangan itu, melainkan seluruhnya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Mereka yang menang saling membanggakan diri dan melibatkan pula suku atau kabila mereka masing-masing. Disampuing itu mereka pulamengejek
dan menghina pihak yang kala dengan menyebut-nyebut dan melibatkan pula kabila mereka.
Tindakan mereka ini selali berakhir dengan perselisihan, percekcokan,bahkan saling membunuh dan peperangan.

Berdasarkan uraian di atas, dengan jelas tergambar bahwa betapa buruknya akibat perjudian yang dilakukan pada masa jahiliah, bahkan yang sangat tidak berperikemanusiaan adalah perjudian dalam bentuk pertama (al-Mukatarah), yang menjadikan istri masing-masing pihak yang berjudi sebagai taruhannya. Demikian pula perjudian kedua (al-Tajzi’ah), berdampak pada rusaknya hubungan social dan saling melecehkan antara kabilah (suku). Hal ini sangat tidak
sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam, yang sangat menghargai aspek kemanusiaan.
Di Indonesia, judi ditandai dengan adanya relief di candi Borobudur yang
menggambarkan sejenis permainan Judi. Masuknya Islan, yang melarang segala bentuk perjudian, juga membawah pengaruh, namun judi tetap dapat ditemnukan pada hampir semua suku bangsa di Indonesia. Artinya bahwa perjudian banyak ditemukan pada masyarakat
Indonesia, walaupun bentuknya berbeda-beda, bahkan terdapat beberapa suku di Indonesia yang biasa berjudi pada saat upacara adat.

Judi atau al-Maysir (bahasa Arab), bambling (bhasa Inggris) adalah permainan dengan memakai uang yang sebagai teruhan atau mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakanberdasarkan kebetulan, denagn tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta semula. Dalam hal ini judi yang dimaksut dalam tulisan ini adalah permainan yang mengandung unsure taruhan (semua bentuk taruhan) dan orang yang menang dalam permainan itu berhak
mendapatkan taruhan tersebut.

Hadis Nabi yang terkait dengan larangan berjudi, sebagaimana tertuang dalam salah satu hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, sebagai berikut :
Artinya : “Barang siapa mengajak temannya bermain judi, maka hendaklah ia tebus dengan bersedekah”

Dalam QS. AL-baqarah (2): 219, Allah Swt menjelasknan bahwa Khamar dan al-Maysir mengandung dosa besar dan juga beberapa manfaat bagi manusia. Akan tetapi, dosanya lebih besar dari manfaatnya. Manfaat yang dimaksut, kususnya mengenai al-Maysir adalah manfaat yang hanya dinikmati oleh pihak yang menang, hal ini dipahamai melalui bentuk al-Maysir pada
masa jahiliyah, dimana pada bentuk permainan al-Mukhatarah pihak yang menang bisa memperoleh harta kekayaan yang dijadikan taruhan dengan mudah, sedang pada bentuk altajzi’ah, pihak yang menang merasa bangga. Akan tetapi pada ayat ini ditegaskan bahwa al- maisir dipandang sebagai salah satu di antara dosa-dosa besar yang dilarang Agama.

Sekian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat. Terimakasih.