Larangan Perjudian Mesin Slot Menurut Norma Agama dan Sosial


Definisi Perjudian dalam Norma Agama dan Norma Sosial

Perjudian mempunyai dampak yang negatif merugikan moral dan mental
masyarakat terutama generasi muda. Judi mesin slot adalah merupakan problem sosial yang sulit di tanggulangi karena adanya judi dengan berbagai implikasinya sudah ada sejak adanya peradaban manusia.


Dalam Ensiklopedia Indonesia judi diartikan sebagai suatu kegiatan
pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan
permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya.
Sedangkan Dra. Kartini Kartono mengartikan judi adalah pertaruhan dengan
sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai, dengan menyadari adanya risiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwaperistiwa permainan, pertandingan pertandingan, perlombaan dan kejadiankejadian yang tidak ataupun belum pasti hasilnya.

Perjudian Ditinjau Dari Norma Agama

Negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah
bukan merupakan negara sekuler, yang berdasarkan atas suatu agama tertentu
melainkan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (sila pertama Pancasila jo
Pasal 29 ayat (1) UUD 1945). Dikatakan bahwa Negara Kesatuan RI bukan
negara sekuler, karena dalam penyelenggaraan pemerintahan negara RI tidak
memisahkan sama sekali urusan kenegaraan dengan urusan keagamaan. Agama
merupakan sumber kepribadian bangsa sebagai landasan moral dan etis yang
terimplikasi dalam asas-asas sebagai sumber hukum perundang-undangan, dan
dalam perwujudannya sebagai undang-undang di dalam pelaksanaannya harus
dijalankan dan ditaati.Hal itu bertujuan agar perbuatan atau perilaku masyarakat
tidak menyimpang dari norma-norma yang ada di dalam agama tersebut.
Kenyataan dalam pergaulan hidup di masyarakat seseorang tidak jarang
menyimpang dari norma agama, hal itu disebabkan oleh kurangnya iman
terhadap seseorang yang akhirnya dapat menjurus kepada perbuatan-perbuatan
yang dilarang oleh agama.
Tanggapan masyarakat berbeda-beda terhadap praktek perjudian, namun
perjudian apapun bentuknya dan namanya hakekatnya adalah bertentangan
dengan agama. Ditinjau dari segi apapun juga, maka judi tersebut merupakan
penyakit masyarakat yang lebih banyak mudharotnya dibandingkan dengan
kemanfaatannya, khususnya agama Islam yang melarang tentang perjudian dalam
segala bentuknya sebab merusak jiwa, merusak badan, merusak rumah tangga
dan merusak masyarakat.
Menurut Syamsudin Adi Dzahabiyang dimaksud dengan judi ialah, “Suatu
permainan atau undian dengan memakai taruhan uang maupun lainnya masingmasing dari keduanya ada yang menang ada yang kalah (untung dan dirugikan)”.

Lebih lanjut dinyatakan:

Allah SWT telah melarang judi seperti firman-Nya yang terdapat di dalamKitab
Suci Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 90 yang menyatakan : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar,berjudi (berkorban untuk berhala), mengundi nasib dengan panah-panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar mendapat keberuntungan”.

Di samping itu juga dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 91 yang
menyatakan10:
“Sesungguhnya setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian
diantara kamu antara meminum khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu untuk
mengingat Allah dan Sholat, maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu”.

Sudah jelas bahwa dari segi norma agama dalam hal ini agama Islam melarang
umatnya bermain judi kemudian agama-agama lainnya pun juga demikian sebab dari
adanya permainan judi tersebut menyebabkan permusuhan antara sesama umat
manusia yaitu saling dendam dan iri hati dan dari adanya perbuatan judi tersebut akan
membuat harta benda menjadi mubazir, tidak halal. Harta benda yang dihasilkan dari
perjudian ini termasuk cara yang terlarang, dan apabila harta dimakan berarti ia
memakan barang haram, bila dipakai untuk usaha berarti juga menggunakan modal
yang dilarang oleh Islam dan jika hal tersebut dibelanjakan di jalan Allah, maka Allah
juga tidak akan menerimanya.
Nampak jelas bahwa perjudian ini tergolong sebagai perbuatan dosa besar
sebab bertolak dari sanalah seperangkat perbuatan dosa dapat timbul. Misalnya,
timbul rasa benci antara yang kalah dan yang menang, pertengkaran dan berontak di
dalam rumah tangganya akibat kalah bahkan banyak juga terjadi pencurian,
pembalakan dan perampokan yang disebabkan oleh perkara yang sama. Oleh
karenanya Islam melarang perbuatan judi.

Perjudian Ditinjau Dari Norma Sosial Yang Lain

Banyak negara melarang perjudian dengan memberi sanksi keras, disebabkan
oleh pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh perjudian antara lain berupa kriminalitas,
kecanduan narkotik dan prostitusi atau pelacuran.

Ditinjau dari segi moral judi yang bersifat untung-untungan disamping dapat
mengganggu kreativitas kerja juga mengganggu moralitas kehidupan keluarga,
masyarakat. Karena spekulasi yang berlebih-lebihan, sementara cara berpikir irasional
akan menyuburkan kebudayaan mistik suatu hal yang mengarah kepada kemusyrikan
sedangkan pembangunan membutuhkan mentalitas yang progresif, sehingga
masyarakat yang tingkat pendidikannya relatif rendah sering menjadi korban dari
keganasan judi ini.

Pendidikan bangsa bermaksud selain mencerdaskan kehidupan masyarakat juga
bertujuan meningkatkan budi pekerti dan akhlak yang luhur oleh karena keadaan
sosial yang dihasilkan oleh perjudian tersebut sangat merusak kemungkinan
tercapainya tujuan pendidikan dan pembangunan.

Perjudian dalam Hukum Positif Indonesia

Dalam rangka mengkaji kebijakan formulasi sebagai upaya penanggulangan
tindak pidana perjudian sebagaimana diatur pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1974 Penertiban Perjudian sebagai peraturan atau ketentuan yang menyempurnakan
KUHP. Maka terlebih dahulu akan dibahas tentang kebijakan kriminalisasi.
Seperti yang telah dikemukakan di atas lahirnya Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian merupakan ketentuan atau peraturan
perundang-undangan yang menetapkan dan merubah beberapa ketentuan yang ada
dalam KUHP. Adapun perumusan dan penetapan ketentuan sanksi pidana oleh
pembentuk undang-undang diatur dalam Pasal 303 dan 303 bis, yang kedua pasal
tersebut adalah kejahatan.

Kejahatan yang dimaksudkan di atas dirumuskan dalam Pasal 303 KUHP yang
selengkapnya adalah sebagai berikut: Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda paling
banyak dua puluh lima juta rupiah, barang siapatanpa mendapat izin: dengan sengaja menawarkan atau memeberikan kesempatan untuk permainan judi
dan menjadikannya sebagai pencaharian, atau dengan sengaja turut serta dalam
suatu kegiatan usaha itu, dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum
untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam kegiatan usaha itu,
dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat
atau dipenuhinya sesuatu tata cara, menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencaharian.

kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya,
maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian itu.
Yang disebut dengan permainan judi adalah tiap-tiap permainan, dimana pada umumnya
kemungkinan mendapat untung bergantung pada keberuntungan belaka, juga karena
pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang
keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka
yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Untuk melakukan kriminalisasi suatu perbuatan biasanya dilakukan melalui
suatu proses yang diawali dengan penetapan suatu perbuatan yang dilakukan oleh
seseorang atau dipersamakan dengan orang, yang oleh undang-undang dinyatakan
sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan sanksi. Proses ini berakhir
dengan terbentuknya undang-undang di mana perbuatan diancam dengan suatu
sanksi yang berupa pidana.
Membicarakan kebijakan kriminalisasi yang terdapat pada Undang-Undang No.
7 Tahun 1974 Tentang Penertiban Perjudian lebih lanjut akan diuraikan mengenai,
ruang lingkup perbuatan yang merupakan delik perjudian.

Sekian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat. Terimakasih.