Definisi Judi Slot Zeus Menurut Pandangan Agama Islam


Kata judi dalam bahasa Indonesia memilki arti “permainan dengan memakai uang atau barang berharga sebagai taruhan (seperti main dadu, kartu, slot zeus).

Sedangkan berjudi memiliki arti mempertaruhkan uang atau harta di permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar dari pada jumlah uang atau harta semula. Sedang pejudi adalah orang yang suka berjudi slot zeus.

Kartini Kartono mengatakan bahwa perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai dengan menyadari adanya risiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwaperistiwa permainan, pertandingan, perlombaan, dan kejadian-kejadian yang tidak pasti hasilnya.

Sedang Dali Mutiara, dalam tafsiran KUHP menyatakan sebagai berikut; permainan judi ini harus diartikan dengan arti yang luas, juga termasuk segala pertaruhan tentang kalah menangnya suatu pacuan kuda atau pertandingan lain, atau segala pertaruhan dalam segala perlombaan-perlombaan itu, misalnya totalisator, dan lain-lain.

Slot Zeus
Definisi Judi Slot Zeus Menurut Pandangan Agama Islam

Menurut undang-undang hukum pidana pasal 303 ayat 3: Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan dimana pada umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Disini termasuk segala pertaruhan tentang segala keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Dalam kamus Purwadarmita judi ialah: permainan dengan bertaruh uang, seperti main dadu, main kartu dan sebagainya. Perjudian (gambling) dalam kamus Webster didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang melibatkan elemen risiko. Risiko didefenisikan sebagai kemungkinan terjadinya suatu kerugian. Carson dan Butcher dalam buku Abnormal psycology and modren life, mendefenisikan perjudian sebagai memasang atas suatu permainan atau kegiatan tertentu dengan harapan memperoleh suatu hasil atau keuntungan yang besar. Apa yang dipertaruhkan dapat saja berupa uang, barang berharga, makanan, dan lain-lain yang dianggap memiliki nilai tinggi dalam suatu komunitas.

Defenisi serupa dikemukakan oleh Stephen Lea, at al (1987) dalam buku The Individual in theEconomy, A Textbook of EconomyPsycology seperti yang dikutip oleh Papu (2002). Menurut mereka perjudian adalah suatu kondisi dimana terdapat potensi kehilangan suatu barang berharga atau segala hal yang mengandung risiko. Namun demikiaan, perbuatan mengambil risiko dalam perilaku berjudi, perlu dibedakan pengertiannya dari perbuatan lain yang juga mengandung risiko.

Ketiga unsur dibawah ini mungkin dapat menjadi faktor yang membedakan perilaku berjudi dengan perilaku lain yang juga mengandung risiko: Perjudian adalah suatu kegiatan sosial yang melibatkan sejumlah uang (sesuatu yang berharga) dimana pemenang memperoleh uang dan imbalan lainnya yang dianggap berharga.

Risiko yang diambil bergantung pada kejadian-kejadian di masa mendatang, dengan hasil yang tidak diketahui, dan banyak ditentukan oleh hal-hal yang bersifat kebetulan atau keberuntungan, Risiko yang diambil bukanlah sesuatu yang harus dilakukan, kekalahan atau kehilangan dapat dihindari dengan tidak ambil bagian dalam permainan judi.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perjudian adalah perilaku yang melibatkan adanya risiko kehilangan sesuatu barang yang berharga dan melibatkan interaksi sosial serta adanyanya unsur kebebasan untuk memilih apakah akan mengambil risiko kehilangan tersebut atu tidak.

Sejarah Perjudian
Perjudian merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, merupakan satu bentuk patologi sosial. Sejarah perjudian sudah ada sejak beribi-ribu tahun yang lalu, sejak dikenalnya sejarah manusia.

Pada mulanya perjudian itu berwujud permainan atau kesibukan pengisi waktu senggang guna menghibur hati, jadi sifatnya rekreatif atau netral. Pada sifat yang netral ini, lambat laun ditambahkan unsur baru untuk merangsang kegairahan bermain dan menaikkan ketegangan serta pengharapan untuk menang, yaitu barang taruhan berupa uang, benda atau tindakan yang bernilai.

Dalam cerita Mahabarata dapat diketahui bahwa Pandawa menjadi kehilangan harta bendanya, kereta-keretanya, kuda-kudanya, gajah-gajahnya, abdi-abdinya, dan juga dayang-dayangnya karena kalah dalam permainan judi melawan Kurawa.dan akibat dari kekalahan itu mereka harus mengasingkan diri selama 12 tahun kedalam hutan, dan pada tahun ke 13 mereka harus tinggal diantara manusia tapi tidak boleh dikenal dan baru pada tahun ke 14 mereka diperkenankan pulangkenegaranya. Didunia barat perilaku berjudi sudah dikenal sejak jaman Yunani Kuno. Para penjudi primitif adalah para dukun yang membuat ramalan kemasa depan dengan menggunakan batu, tongkat, atau tulang hewan yang dilempar keudara dan jatuh ditanah. Biasanya yang diramal pada masa itu adalah nasib seorang pada masa mendatang. Pada saat itu nasib seseorang akan ditentukan oleh posisi jatuhnya batu, tongkat atau tulang ketika mendarat ditanah. Dalam perkembangan selanjutnya posisi mendarat tersebut dianggap sebagi sesuatu yang menarik untuk dipertaruhkan. Alice Hewing dalam bukunya Something for nothing : A History of Gambling mengemukakan bahwa orang-orang Mesir Kuno sangat senang bertaruh dalam suatu permainan seperti yang dimainkan oleh anak-anak pada masa kini dimana mereka menebak jumlah jari-jari dua orang berdasarkan angka ganjil atau genap. Orang-orang Yunani Kuno menyenangi permainan melempar koin dan lotere, yang dipelajari dari Cina. Selain itu, mereka juga menyenangi permainan dadu.

Pada jaman Romawi Kuno permainan dadu menjadi sangat populer. Para raja seperti Nero dan Claudine menganggap permainan dadu sebagai bagian penting dalam acara kerajaan. Namun permainan dadu menghilang bersamaan dengan keruntuhan kerajaan Romawi, dan baru ditemukan kembali beberapa abad kemudian di sebuah benteng Arab bernama Hazart (mungkin diambil dari tempat dimana dadu tersebut ditemukan kembali), semasa perang salib.

Latar Belakang Perjudian

Sekarang ini sangat sulit menarik garis pemisah tegas antara perjudian dan aktifitas-aktifitas lainnya. Sebab, faktor spekulasi yaitu kemungkinan mendapatkan untung rugi itu berperan penting dalam aktifitas manusia. Jika dalam usaha tadi ada unsur untung-untungan, maka aktifitas itu disebut perjudian. Contoh sebagai berikut; apabila satu transaksi komersial berdasarkan data rasional yang dikaitkan dengan harga pasaran di masa mendatang itu tidak disertai kalkulasi yang tepat dan tindakan yang tegas dan didominasi oleh semangat untung-untungan, atau asal mencebur saja, maka transaksi tersebut bisa disamakan dengan perjudian slot zeus. Jadi, elemen-elemen perjudian sukar dibedakan dari elemen-elemen nonperjudian dalam transaksi-transaksi spekulatif. Dalam bentuk yang paling sederhana, spekulasi ini berupa perbuatan membeli atau menjual barang dagangan, benda-benda jaminan, dan hak-hak tertentu dalam pengharapan mendapatkan laba sebesar-besarnya atas dasar untung-untungan yang membuta, disertai harapan bursa pasaran bisa berubah menguntuntungkan dirinya. Maka aktifitas spekulatif ini bisa disebutkan sebagai perjudian. Sebaliknya bila spekulasi tersebut berdasarkan pada kalkulasi rasional dan data faktual, transaksi tadi disebut komersial.

Pada masa sekarang, banyak bentuk permainan yang sulit dan menuntut ketekunan serta ketrampilan dijadikan alat judi. Umpamanya pertandinganpertandingan atletik, badminton, sepak bola, tinju, gulat, dan macam-macam sport lainnya. Juga pacuan-pacuan; misalnya pacuan kuda, anjing balap, biri-biri, dan karapan sapi. Permainan dan pacuan-pacuan tersebut semula bersifat kreatif dalam bentuk yang menyenangkan untuk menghibur diri, sebagai pelepas ketegangan sesudah bekerja. Dikemudian hari, ditambahkan elemen pertaruhan guna memberikan insentif kepada para pemain, untuk memenangkan pertandingan. Disamping itu dimaksudkan pula untuk mendapatkan keuntungan komersial bagi orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu.

Sekian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat. Terimakasih.